Review Buku “Survive Menghadapi Quarter Life Crisis (QLC)”

Berdamai dengan Quarter Life Crisis (QLC)

Penulis: Efnie Indrianie

Penerbit: Brilliant

Editor: Nimas

Desain Sampul: Ninaryu

Proof Reader: Farida Anugraheny

Tebal: 116 hlm

ISBN: 978-602-5861-43-7

Cetakan Ke-1: 2020

Setiap individu di dunia pasti melewati beberapa tahap perkembangan yang dimulai dari bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa hingga lanjut usia. Masing-masing dari setiap tahap perkembangan memiliki tahap yang berbeda-beda. Dari perbedaan tersebut ada salah satu masa yang dianggap penting dan menjadi perhatian banyak kalangan yaitu masa peralihan remaja ke dewasa.

Masa peralihan remaja ke dewasa ini secara sederhananya kita bisa sebut dengan transisi kehidupan. Namun sesuai dengan judul buku ini, Survive Menghadapi Quarter Life Crisis (QLC). Yang kita pahami dari dasarnya adalah perihal perkembangan fungsi otak manusia. Pada masa transisi ke dewasa baru ini, setiap kita mengalami perkembangan terutama pada fungsi otak. Jadi pada masa ini, penulis mengatakan bahwa otak sedang melakukan penguatan pada jalur-jalur koreksi saraf tertentu, karena didukung oleh perilaku yang menguatkan.

Bagian fungi otak yang berkembang pada masa ini adalah frontal lobe (lobus frontal), yang memiliki peranan dalam memproses informasi maka usia remaja kita banyak melakukan eksplorasi dengan melakukan hal-hal yang baru. Jika ditanya, apa itu frontal lobe? Yaitu pusat kontrol emosi dan ruang personalitas serta kemampuan membuat keputusan.

Menurut situs, gurusukses.com, Jika lobus frontal mengalami kerusakan, orangnya akan mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi menjadi asosial, atau terlibat dalam aktivitas berisiko tinggi. Lalu, menurut situs lifestyle.kompas.com, frontal cortex memiliki bagian prefrontal cortex yang merupakan pusat kognitif. Bagian ini memiliki fungsi eksekutif terkait emosi yang ditampilkan. Bagian ini juga berperan dalam penilaian, kretivitas, dan berbicara. Namun jika berfokus pada buku ini, kita bisa mengingat tiga frasa (beberapa kata) kunci yaitu yang pertama; menimbang dan menilai, yang kedua; membuat perencanaan dan yang ketiga; mengendalikan keinginan.

Berdasarkan penjelasan umum diatas, mari kita fokus kembali ke persoalan QLC. Kita mulai dari ciri-ciri QLC, yaitu yang pertama; kita masih mencari apa yang menjadi mimpi dan rencana masa depan, yang kedua; rasa kecewa yang sangat mendalam saat gagal meraih “goals” yang diinginkan, yang ketiga; keinginan untuk menghabiskan lebih banyak waktu dalam kesendirian atau hanya bersama dengan teman-teman terdekat saja, yang keempat; kita menanamkan dalam diri bahwa kita masih muda dan masih punya banyak waktu untuk menentukan arah hidup yang harus kita pilih. Apakah kalian merasakan ciri-ciri tersebut? Saya rasa kita semua tentu pernah merasakannya, meskipun tidak semuanya. Karena permasalahan setiap orang tentu berbeda-beda, namun, masalah umum yang kita hadapi namanya adalah QLC. Jadi yang membedakan dari masalah kita adalah spesifik permasalahannya, benar kan?

Selanjutnya penulis mengatakan selain ciri-ciri, ada juga aspek yang mengalami transisi saat kita berada dalam QLC. Yaitu mindset, mental, pola hidup dan pindah zona nyaman (dari dunia akademis ke dunia nyata). Jika dijabarkan satu-satu, maka akan panjang lagi tulisan ini. Jadi singkatnya menurut saya tentang aspek ini adalah yang paling utama adalah masalah mindset, kenapa saya katakan seperti itu? Karena pada dasarnya semua berasal dari pikiran, kemudian menimbulkan pendapat atau pun persepsi atau juga sudut pandang. Nah dari hal tersebut saya berpikir bahwa kita harus berkonsep growth mindset. Kenapa? Karena dari growth mindset ini kita bisa melihat dari berbagai sudut pandang dan umumnya merujuk pada pemikiran positif. Jika dibandingkan dengan fixed mindset, sangat berbeda jauh. Karena fixed mindset itu menganggap setiap persoalan atau pun masalah itu seperti layaknya takdir, jadi kita bisa rentan terkena frustasi atau jatuh terpuruk sangat dalam, karena lebih sedikit porsi positif thinking-nya.

Lalu fokus selanjutnya tentang setelah masuk kedalam tahap QLC, yaitu membangun motivasi dalam diri kita. Penulis menyebutkan ada sepuluh tips sederhana yang dapat mempertahankan motivasi dalam melaksanakan kegiatan atau rutinitas sehari-hari.

Berikut 10 tips sederhana mempertahankan motivasi;

  1. Buat goals sendiri yang jelas
  2. Gunakan afirmasi (ucapan) positif
  3. Lakukan hal-hal yang disukai dan bermanfaat untuk kita
  4. Beradalah diantara orang-orang yang berpikiran positif
  5. Berikan stimulasi antusiasme positif pada diri, seperti melihat indahnya pemandangan, mendengarkan atau menyanyikan musik tidak peduli suaramu kurang bagus, dan lain sebagainya
  6. Fokus pada saat ini saja dahulu
  7. Fokus untuk menyelesaikan kegiatan atau pekerjaan satu persatu
  8. Berikan apresiasi atas pencapaian sekecil apapun pada diri kita
  9. Buatlah daftar kesuksesan apa saja yang pernah kita raih dimasa lalu, untuk semangat kita kedepan
  10. Jadikan hambatan menjadi sebuah tantangan

Pembahasan terakhir adalah tentang berdamai dari QLC. Penulis mengatakan untuk berdamai, singkatnya itu ada empat, yaitu yang pertama; kenali karakter (analisis tentang kekurangan dan kelebihan diri), yang kedua; kenali apa yang menjadi “passion“-mu, yang ketiga; ciptakan kebahagiaanmu, dan yang keempat; yakinkan diri bahwa tiap orang punya timeline (waktu) -nya masing-masing, jadi tunggu saatnya kita pasti akan berada dipuncak karier dengan membangun diri dan belajar dari awal.

Saya merasa sangat bersyukur kepada Allah, saya masih belajar banyak hal termasuk membeli buku ini (tidak berpikir sampai dua kali). Karena memang buku ini sangat saya butuhkan untuk memahami diri saya sendiri. Apalagi jika ada tuntutan atau tugas berbagi di kelas online atau semacamnya, selain belajar public speaking saya juga belajar untuk memahami lebih detail dan membangun rencana spesifik untuk masa depan. Semoga apa yang sudah saya jelaskan dapat dipahami dan semoga kita diberikan oleh Allah kekuatan untuk menghadapi segala masalah yang ada. Aamiin.

Iklan

25 pemikiran pada “Review Buku “Survive Menghadapi Quarter Life Crisis (QLC)”

  1. Hey Imas! Buku-buku pengembangan diri gini bagus ya, banyak ilmunya cuma di aku tuh rada gak cocok dengan jenis buku kek gini. Jadi refer baca review atau summary aja sih, trims untuk reviewnya.

    • iya, kak. saya masih berusaha. maaf akhir-akhir ini agak menurun. Soalnya saya ada tertarik tulisan di platform medium. namun tetap juga masih belajar disini.

    • Menarik nih bukunya, rekomended ya karena fase quoter life bikin galau. Kadang pengen idealis tapi fakta2 lapangan menuntut banyak hal..kalo g punya mindset yang bagus dalam menjalani apa yg dilakukan sekarg bisa terombang ambing.

      • Iya kak, betul. Buku ini jadi salah satu panduan sederhana, kan? Recomended karena banyak usia muda produktif yang galau, termasuk saya hehe, makanya perlu banyak baca buku lagi

  2. Salam kenal, kak Imas ๐Ÿ™‚
    Bermanfaat sekali review bukunya.
    Saya juga senang dengan pembahasan-pembahasan seperti ini, tapi jarang banget beli buku. Hehe
    Seringnya nyimak dari youtube saja, cari yang gratis. hehe
    Tetap semangat mereview ya kak ๐Ÿ™‚

  3. aiiih, baca review ini jadi kepengen punya dan baca bukunya. 10 Tips nya langsung tak catat di buku, buat reminder diri sendiri.
    makasih sudah bikin aku kepincut pengen punya bukunya ya. hihihi. ditunggu review buku lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s